Corona Mimpi Buruk yang Nyata Bagi Pengusaha Agen Perjalanan

Corona Mimpi Buruk yang Nyata Bagi Pengusaha Agen Perjalanan

Agen Perjalanan- Virus Corona yang mewabah di Indonesia, mengakibatkan penurunan kunjungan turis di berbagai destinasi utama. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio mengimbau seluruh stakeholder pariwisata, berupaya mencegah penyebaran virus corona (COVID-19) di daerah masing-masing.

Wishnutama melalui surat edaran yang dikeluarkan di Jakarta, Kamis 19 Maret 2020 meminta dinas yang membidangi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, agar menunda kegiatan yang diselenggarakan di dalam dan luar ruang.
Acara yang ditunda antara lain konser musik, festival, pelatihan, bazar, seminar, pameran, dan konferensi yang dilaksanakan selama masa darurat bencana COVID-19, masih diberlakukan oleh pemerintah pusat. 

Selain itu pandemi virus corona (Covid-19) menimbulkan dampak terburuk bagi pelaku bisnis travel di Indonesia. Selain merumahkan karyawan, sudah dipastikan usaha di sektor ini banyak yang terhenti.

agen perjalanan

Pengusaha Agen Perjalanan  menyebut wabah virus corona (Covid-19) menimbulkan tantangan yang lebih berat pada tahun ini.

Dirut PT Vina Tour & Travel Marudut TH Sagala mengatakan, pandemi Covid-19 sebenarnya sudah terasa sejak Januari 2020, dengan menurunnya kunjungan wisatawan baik yang masuk dari Malaysia maupun Singapura.

“Pada bulan Januari bisnis travel mengalami penurunan karena ada kebijakan beberapa negara yang melakukan penutupan penerbangan. Apalagi pintu masuk wisatawan eropa sebagian besar melalui Malaysia dan Singapura,” kata Marudut yang juga pengurus Ikatan Persaudaraan Pariwisata Medan (IPDM) kepada SINDONews.com, Senin (23/3/2020).

Di bulan Januari, kondisi bisnis perjalanan masih mampu bertahan. Namun kebijakan pemerintah dengan melakukan penutupan objek wisata di tanah air, menghancurkan usaha mereka.

“Begitu pemerintah Sumatera Utara mengeluarkan kebijakan menutup objek wisata pelaku usaha travel secara otomatis terhenti. Dengan terpaksa kami harus melakukan PHK karyawan dan mengandangkan bus travel,” kata Marudut.

Bahkan, hingga kini permintaan pembelian tiket wisata, baik penerbangan dan kapal laut juga tidak ada. Kalaupun ada permintaan sudah pasti untuk keperluan mendesak ataupun urgen.

Berdasarkan data IPDM, sambung Marudut, bisnis travel akan terhenti hingga Juni mendatang. “Sesuai data-data yang masuk kondisi ini akan terjadi hingga Juni mendatang, hal itu dapat dilihat dari kontrak-kontrak kerjasama yang sudah dibatalkan,” ujarnya.

Kini pengusaha travel yang tergabung dalam IPDM menunggu kebijakan teranyar pemerintah terkait angsuran bank dan leasing.

“Kami sendiri sudah bingung untuk menutupi angsuran pembelian bus-bus pariwisata yang harus dibayar setiap bulan. Jika tidak ada pendapatan seperti sekarang ini, bagaimana untuk melunasinya. Oleh karena itu, kami berharap ada kebijakan khusus yang dilakukan pemerintah Sumatera Utara bagi pelaku wisata,” harap Marudut.

(sumber : https://sumut.sindonews.com/)

Tinggalkan Balasan

Close Menu